Money Had Their Own Religion

Image

Hmm.. sebenarnya malas juga membahas topic ini lagi, tapi berhubung saya menemukan bahasan yang menarik jadi saya kesamping kan dulu topik2 lainnya yang ingin saya sharing.

“Money, if it does not bring you happiness, will at least help you be miserable in comfort.” – Helen Gurley Brown

Saya sering sekali terjebak pada situasi – situasi dimana uang menjadi bintang utama rusaknya kepercayaan saya terhadap orang lain. Sering sekali Saya harus mengikhlaskan uang yang saya pinjamkan pada teman – teman saya karena mereka  “lupa” membayar padahal mereka selalu menjanjikan. Pernakah kalian berpikir saat seseorang meminjamkan uangnya untuk kalian, bahwa itu berarti orang yang meminjamkan uang tersebut harus menahan egonya terlebih dahulu untuk membeli kebutuhannya karena merasa bahwa kebutuhan kalian lah yang dia rasa lebih penting untuk di dahulukan daripada dirinya. Dan saat kalian menjanjikan akan membayar itu berarti kebutuhan dia pun akan terpenuhi,  eat least coba penuhi kewajiban kalian dulu terhadap orang lain saat kalian memiliki cukup uang untuk membayar.

Kejadian lainnya yang membuat saya melihat uang seperti setan yang menyeramkan adalah saat saya di jebak oleh sahabat saya sendiri. 6 bulan lalu, sahabat baik saya yang sudah saya kenal dari semenjak saya duduk di bangku SMP, memohon untuk meminjam nama saya agar dia bisa dapat pinjaman untuk menyembuhkan adiknya yang terkena tumor, saat itu dia beralasan bahwa dia belum memiliki account di bank dan dia butuh dana cepat untuk segera menolong adiknya, padahal saat itu status saya adalah pengangguran. Well, sebagai sahabatnya tentu tidak tega untuk tidak menolongnya. Siapa sangka dia justru menyeret saya ke rentenir, uang yang di pinjamkankan pun tak main – main 5 juta rupiah, ucapannya yang mengatakan bahwa dia yang akan membayar tiap bulannya dan berjanji  kalau rentenir itu tidak akan datang ke rumah ternyata hanya isapan jempol. 2 kali berturut – turut rumah saya di datangi debt collector hutang pun membengkak menjadi 7 juta rupiah, ajaibnya sahabat saya tidak mengakui bahwa hutang itu miliknya dan menuduh saya yang menikmati uang itu what a great actress she is!!. Akhirnya orang tua sayalah yang membayar penuh hutang itu demi tidak menggunungnya nominal uang tersebut,perasaan saya saat itu seperti pembuat malu keluarga, sampai saat ini dia bahkan tidak meminta maaf atas fitnahannya. See, bagaimana uang bisa merubah hati manusia yang tadinya putih menjadi  sehitam arang.

Hal yang serupa juga pernah di alami kakak saya, saat salah satu mahasiswanya bersedia untuk mengontrakan rumahnya saat kakak saya kembali dari kuliah S2nya. Dengan kepercayaan penuh kaka saya mentransfer uang muka tanda kesepakatan rumah itu akan di tempati sekembalinya ia menjadi dosen, kakak saya berdalih karena mahasiswinya itu sangat agamis dan baik sehingga dia percaya bahwa orang semacam itu tak mungkin menipu, dan yah lagi uang bahkan dapat menual iman seseorang.

Kau bisa mengatakan orang itu baik , manis, religious, sopan atau orang yang kau kenal selama puluhan tahun sehingga mustahil menipumu, tak perduli bagaimana agamanya tapi untuk uang  mereka punya agamanya sendiri.

“Hidup bukan hanya sekedar seberapa uang yang ada di kantongmu”.

Advertisements

About dinnipurnama

unpredictable me
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s