Totto Chan and Character Building

Tahu Buku ini?

Buku ini diambil dari kisah nyata penulisnya yang menamai dirinya Totto-chan, gadis kecil yang di cap nakal di sekolah pertamanya sehingga membuat dia dikeluarkan. Sampai akhirnya menemukan sebuah sekolah “kereta api” Tomoe Gakuen dengan kepala sekolah yang sangat memahami dunia anak bernama Pak Kobayashi, dengan Pak Kobayashi inilah Totto chan bisa menikmati dunia sekolahnya tanpa harus merasa tertekan dengan aturan baku sekolah yaitu belajar.

Buku ini menjadi fenomenal di Jepang karena system yang di terapkan Pak Kobayashi mengenai pendidikan karakter anak tergolong sukses mendidik anak usia dini, bahkan beberapa bab dalam buku ini dijadikan kurikulum pendidikan jepang.

Pertama kali saya menemukan buku ini di perpustakaan daerah Kota Serang semasa saya duduk di bangku SMA. Sehabis menyelesaikan membaca karya Torey Hayden tentang anak berkebutuhan khusus, saya jadi tertarik tentang dunia pendidikan anak, and I found these unforgettable book! Buku ini menjadi list no 1 dalam buku favorit saya bahkan mengalahkan harry potter yang berjajar rapi di rak buku saya dari Vol 1 sampai 7.

Yang saya kagumi dari buku ini adalah bagaimana si kepala sekolah Mr. Kobayashi menjadikan siswa – siswinya begitu nyaman di sekolah dengan system pendidikan yang lebih mengutamakan karakter, bagaimana anak belajar untuk menerima sesama temannya yang memiliki kekurangan dan belajar untuk lebih percaya diri serta menikmati pelajaran yang diberikan tanpa harus memaksakan untuk pintar di semua pelajaran, juga bagaimana Mr. Kobayashi selalu mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat anak didiknya, dimana kebanyakan orang tua lebih cenderung mengacuhkan perkataan anak kecil dan memaksakan kehendaknya karena merasa merekalah yang berhak mengatur, no offense but even children have their own opinion, nggak ada salahnya kan kalo kita juga menghargai pendapat mereka.

Alangkah bagusnya kalau system seperti inilah yang diterapkan untuk pendidikan dasar di Indonesia, karena sekolah dasar adalah pondasi utama seorang anak dalam membangun karakter, apa jadinya jika anak mahir matematika, menguasai bahasa asing dan tahu hukum fisika tapi memiliki nilai empati yang rendah dan tidak dapat menghargai orang lain?. Bukankah ini seperti cawan emas dengan isi yang kosong?. Akan lebih efektif jika sekolah dapat mencetak generasi yang walaupun tidak menguasai semua bidang mata pelajaran tapi mengetahui kemana minat mereka dan mengembangkannya, generasi yang berkarakter kuat tanpa harus kehilangan nilai sosial budaya.

Saya pernah menonton stand up comedy yang memebahas tentang pendidikan, bagaimana si comic begitu kagum dengan pendidikan barat dan berharap di terapkan di Indonesia, walaupun saya menyetejui tentang pendapatnya jika jam pelajaran sekolah lebih baik di kurangi, namun ada satu hal yang saya merasa tidak sesuai. Bagaimana si comic menyindir kalau guru – guru Indonesia yang “gila hormat” karena selalu meminta cium tangan. Berkaca dari Jepang, dimana pendidikan yang sedemikian bagusnya tapi tetap tak meninggalkan akar budayanya, menghormati orang tua dan guru adalah salah satu akar budaya kita sebagai bangsa Indonesia dan pendidikan seharusnya tidak terlepas dari nilai budaya dan agama.

totto-chan3

Walaupun sekolah seperti itu sudah mulai bermunculan di Indonesia, tapi menurut saya akan lebih sulit jika tanpa dukungan kurikulum yang di keluarkan pemerintah, jika si anak menerima pelajaran dengan system yang berbeda dengan sekolah lainnya tentu akan sulit saat anak tersebut melanjutkan jenjang pendidikannya dimana pelajaran sudah jauh lebih berat dan beresiko anak akan kehilangan kepercayaan dirinya.

Sekali – kali posting yang cukup serius ya, maklum obsesi ngga kesampaian untuk jadi pendidik hehe… Kalau saya melihat diri sendiri dimana dari kecil yang saya tahu hanya belajar dan belajar untuk melanjutkan pendidikan untuk dapat gelar sarjana. that’s it! Saya tak memiliki minat dan bakat selain tidur apapun sekalipun saya memiliki keingianan orang di sekitar saya bahkan guru sayapun meragukan. Hingga pada akhirnya saya menyerah untuk belajar karena selalu berpikir yang saya lakukan hanya untuk mendapatkan nilai baik saat ujian, tanpa tahu kemana seharusnya saya bermuara. Maaf ya curcol dikit 🙂 tapi saya sangat berharap system pendidikan di Indonesia dapat di perbaiki, sehingga jika saya punya anak, saya bisa menyekolahkan anak saya kelak tanpa rasa khawatir dan mempercayai sekolah sebagai rumah kedua mereka.

Advertisements

About dinnipurnama

unpredictable me
This entry was posted in books. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s